Posted by: cikrin | March 18, 2012

Apa istilahnya?

Seperti yang kita ketahui bahwa Poligami adalah ketika seorang pria memiliki lebih dari 1 istri sedangkan Poliandri adalah ketika seorang wanita memiliki lebih dari 1 suami. Lantas menurut teman-teman apa istilah yang tepat untuk cerita berikut:

Saya memiliki seorang teman yang hobinya tidak pernah pulang ke kost. Berita terakhir yang saya dapatkan adalah dirinya sudah tidak ngekost lagi. Sekarang dia tinggal di rumah teman-temannya (ya… memang biasanya seperti itu). Ketika kemarin saya berjumpa dengannya, terjadilah perbincangan singkat:

“Lha nanti ini kamu balik kemana?”

“Ke rumah XXX”

“Lho udah gak ke rumah YYY?”

“Gak. Tapi kadang si YYY, sms aku: Kapan ke tempatku? Dah lama gak bareng”
Spontan saja saya menjawab, “Kok malah kayak kudu membagi ‘kasih sayang’ gitu? Trus apa istilahnya?”

Kami belum bisa menemukan istilah yang tepat untuk kejadian di atas. Ada ide?
*njaluk di seneni karo sing nduwe cerita :p*

Posted by: cikrin | March 12, 2012

Ceritanya Mampir Doang

Hari Sabtu kemarin teman saya yang berID @Rarajonggrang sedang heboh-hebohnya mo pindahan kost. Rencananya sih hari sabtu itu saya mo mampir, lebih tepatnya ingin melihat bagaimana kondiri si pemilik kamar dan kamar yang telah ditinggalkannya sekian lama. Mungkin saja “si kamar” akan bernyanyi lagunya Armada, “siapa pemilik kamar ini” dan “Mau di bawa kemana hubungan kita (antara kamar dan pemilik kamar)”. Peace Ra :D .

Berhubung Kak Rara sampai kost pada jam 9 malam, maka saya urungkan niat saya untuk bertandang ke kostnya. Saya pun menemaninya via twitter, lebih tepatnya mengganggunya :D . Ternyata beres-beres kost masih berlanjut di hari minggu. Akhirnya kesampaian juga saya mampir ke kostnya. Namun, saya tidak bisa berlama-lama di kostnya. Ketika saya datang ada Heni dan seorang lagi.

Tangan Rara yang “photok” sangat terampil mengangkat-angkat lemari dan berberes-beres. Tak heran sore harinya dia mendapat job untuk beres-beres kamarnya Intan (saya pun belum kenal siapa Intan :D ). Setelah itu sepertinya dia sudah mendaftarkan diri untuk beres-beres kamarnya Heni.

Perjuanganmu sungguh mulia dan tidak terkira.

Semoga Anda segera menyelesaikan skripsi Anda kak Rara :D

Posted by: cikrin | March 4, 2012

Ngalamin Macet deh…

Huah… ini sepertinya pengalaman dimana saya datang terlambat di airport. Macet tu jalan menuju bandara. Supir damrinya pas sepi malah pelan gitu nyetirnya. Saya satu bis dengan orang-orang yang penerbangannya sama atau mirip dengan saya. Awalnya sih masih asyik-asyik aja ndengerin mp3, tapi kok macetnya gak selesai-selesai gini. Tiba-tiba saya denger kalo ada penumpang yang penerbangannya jam 18.45 sedangkan saya jam 19.00… Aih mak… beda tipis gitu. Dan gak afdol dong kalo yang lain pada galau sedangkan saya asyik menikmati lagu-lagu. Saya lepas earphone dan mulai ikutan bergalau karena macet dengan penumpang bis yang lain.
Saya mau akting liat-liat jam itu juga gak bisa karena saya gak pake jam tangan :p. Akhirny tanya-tanya, “Sekarang jam berapa pak?”. Hehe… Menurut info yang saya dapatkan ternyata macet sampai ancol. Cahaya mataharipun mulai redup dan kami pun masih di jalan. Makan-minum udah kerasa gak enak *padahal emang gak ada sih :D *.

Mendadak orang di sebelah saya sudah tampak tidak galau, tapi lebih ke arah pasrah. Saat itu jalanan sudah lancar karena telah melewati ancol. Bapak di sebelah saya, penerbangan jam 18.30 ke Mataram, dan ketika saya tanya sudah jam 18.20… 10 menit lagi gan. Tempat check damri ada belum sampai, dan berharap gak usah lama-lama deh ngeceknya. Ketika petugas naik ke bis, ada penumpang yang nyeletuk, “Jangan lama-lama pak, kita dah mo telat nih”. Saya kira petugasnya bakal jawab dengan lemah lembut bin gemulai, eh.. tapi malah jawab, “Iya pak, kita ini Cuma jalanin tugas kok. Kalau gak mo telat berangkat dari subuh aja”. Aji gile ni bapak :D .

Akhirnya sampai juga di bandara, pake acara lari-lari membawa tas punggung, tas slempang dan 2 porsi makanan (kwetiau dan mie goreng), dan tiba-tiba saya bingung, “Sejak kapan yang namanya kwetiau dan mie goreng itu jadi oleh-oleh”. Saya hanya menjalankan amanaha untuk beli mie. Tapi emang mienya enak sih. Mahal pulak dan enggak di ganti pulak duitnya. Ya sudahlah namanya juga ‘oleh-oleh’. Back to bandara again. Cek barang, dll. Sampai akhirnya kami dinyatakan telat oleh petugas, berharap-harap cemaslah saya. Ngebayangin duitnya itu. Mana masih ngutang pulak (sampai tulisan ini saya publish) :D . Untunglah masih bisa.

O,iya saat itu saya berdua dengan seorang bapak-bapak yang satu bis dengan saya. Ada 1 lagi sih tapi dia udah jalan duluan. Langsung saja kami bayar airport tax. Naik ke atas. Dan dalam keadaan setelah berlari, bapak itu tiba-tiba memberikan saya sebuah kartu nama. Aih pak… dah telat nih. Tetap saja saya terima kartu nama dari beliau. Akhirnya sampai juga di ruang tunggu dan mulailah kami mengobrol… eh bukan.. saya menerima kuliah gratis. Karena bapak tersebut menjelaskan macam-macam. Ternyata beliau adalah seorang dosen.

Terjadilah percakapan ketika dalam perjalan naik ke atas pesawat yang intinya adalah “Kalau telat dan ada temennya itu lebih tenang karena merasa ada teman yang menanggung hal yang sama”. Padahal kalo di pikir-pikir sih sama aja. Sama-sama telat :P .

Dan…

Flight saya kali ini bener-bener berasa kayak kuliah. Kenapa? Karena saya duduk bersebelahan dengan bapak tadi. Maklumlah dari juga barengan waktu urus tiket. Di jelasin tentang manajemen resiko, bea cukai, dan hal-hal yang ada di koran.

“Tanda kenakan sabuk pengaman sudah dinyalakan”…

Tanda-tanda bakal segera landing. Lampu-lampu sudah mulai terlihat dan mulailah saya menebak-nebak dimanakah saya berada. Akhirnya saya berpisah dengan si bapak. Terima kasih pak sharingnya. Selamat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dan saya pulang dengan rasa tidak sabar untuk memakan kwetiau.

*pengen makan waktu di badara sih, tapi ternyata gak di kasih sumpit, dan juga gak enak sama si bapak yang sedang memberikan saya cerita-ceritanya*

Posted by: cikrin | October 21, 2011

Mie Kebul

Beberapa hari yang lalu saya mampir ke toko teman saya. Ketika hendak pulang, saya malah ditawari makan mie ayam oleh kakaknya. Awalnya saya pikir bakal seperti mie ayam pada umumnya.Ketika mie ayam tersebut sudah ada dihadapan saya dan siap di santap, saya lihat penyajiannya seperti mie ayam pada umunya dan bentuk mienya pun tidak jauh beda dengan yang biasanya saya lihat.

Hmm… tapi rasanya beda dari biasanya. Rasa mie ayamnya mengingatkan saya pada salah satu mie ayam favorit saya. Agak asin-asin gimana gitu :p. Kayaknya emang gini deh rasa mie ayam buatannya orang Chinese.

Kemudian teman saya bercerita bahwa dulu mie ayam tersebut kurang laku. Dulu namanya “Mie Kebul”. Tidak terlalu laris. Tapi sejak mengganti tulisannya menjadi “Mie Ayam Rp 5.000,-“, mie ayam tersebut jadi lebih ramai. Mungkin karena namanya ya. Orang mungkin akan penasaran dengan nama Mie Kebul tapi belum tentu berkunjung. Teman saya berkata, “Apa orang-orang mikir, mie kebul tu kayak apa ya? Kan mie bakal ngebul, hehe”. Keadaan berbeda ketika nama di rubah menjadi “Mie Ayam Rp 5.000,-“. Sepertinya orang-orang lebih suka yang jelas harganya berapa.

Sepertinya perlu berhati-hati dalam memberi nama “Tempat Usaha”, kita memang berniat untuk membuat orang penasaran tapi belum tentu hal tersebut akan membuat orang mencoba produk yang kita tawarkan. Bahkan iklan yang terkesan “standar” yang memberi kejelasan harga membuat orang-orang mencoba produk yang kita tawarkan.

Salam Mie Ayam :p

Posted by: cikrin | October 20, 2011

Lupis

Kemarin saya pergi ke salah satu tempat perbelanjaan yang berada di tengah kota. Saya parkir di dekat tempat yang saya tuju. Ketika berjalan menuju tempat tersebut saya melewati penjual onde-onde, lupis, putu, cenil, klepon, dll. Wah… saya tergoda untuk membelinya. Saya malah berasa mau wisata kuliner, karena disamping penjual onde-onde, lupis, dll ada penjual kue pukis. hehe…

lupis

lupis

Setelah selesai berbelanja, saya masih pikir-pikir, “Jadi beli gak ya?”. Akhirnya saya putuskan untuk membeli lupis. Lupis merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia. Harganya Rp 300,- per slice (biji). hehe… Saya beli 5rb. Diberi parutan kelapa dan gula jawa cair. Hmm…

Sebelum makan, iseng-iseng saya foto dan saya publish di koprol. Ternyata Rara malah jadi tergoda untuk ikut makan lupis, bahkan sampai pasang status di FB. Kemudian timbul sebuah pertanyaan, “Sebenarnya lupis itu termasuk kue atau tidak?”. Kalau Pukis memang biasanya di sebut Kue Pukis. Sepertinya pertanyaan ini timbul karena Rara, menulis status “Kue Lupis” dan mendapat tanggapan dari Hasta. Ajeng pun ikut berkomentar.

Masuk tidaknya lupis ke dalam golongan kue atau tidak, saya tetap suka makan lupis. hehe…

Posted by: cikrin | August 10, 2011

Brand dan Cikrin

Posted by: cikrin | April 6, 2011

Melompat Lebih Tinggi

Salah seorang teman saya adalah penjaga warnet. Siapakah dia? Dia adalah Rara, seorang newbie exsist. Peraturan yang berlaku di warnet tempatnya bekerja adalah sebisa mungkin tidak memperbolehkan cewek untuk jaga malam. Bulan pertama dia bekerja, shiftnya masih shift pagi atau siang. Tapi untuk bulan april ini dia juga mendapat shift malam. Lho kok bisa? Katanya cewek gak boleh shift malam. Ternyata hal yang mendasarinya hal tersebut adalah kejadian ini:

Pada suatu hari Rara jaga siang tapi entah kenapa dia mangkal di warnet sampai jam 12 malam :p. Ketika bossnya telpon, dirinya pun masih di warnet. Ketika hendak membuat jadwal, bosnya berkata, “Kayaknya mbak Rara bisa deh shift malam”. Mungkin pertimbangan bossnya adalah ketika dia mengetahui bahwa Rara pernah sampai jam 12 malam ada di warnet.

Awalnya gak boleh, trus menjadi boleh karena sudah pembuktian diri (melakukan jaga warnet hingga malam). Sebenarnya banyak dari kita yang melakukan pembatasan diri, ketika menghadapi suatu peraturan yang seolah-olah tak bisa dirubah karena hal tersebut merupakan hal yang pakem atau mungkin lumrah. Kita berasumsi bahwa “Ah… gak mungkin, biasanya juga gak boleh/bisa”. Tapi bagaimana bila kita melakukan pembuktian diri kalau sebenarnya kita mampu dan bisa? Pasti orang akan bergumam, “Ternyata orang ini bisa juga ya?”. Banyak dari kita yang terkesan meng-iya-kan suatu aturan yang lumrah. Pernah mendengar tentang cerita kutu loncat? Berikut ceritanya:

“Hiduplah seekor kutu loncat yang dapat meloncat sangat tinggi (ya iyalah namanya juga kutu loncat). Kitu tersebut dapat meloncat lebih dari 1 meter. Kemudian kutu tersebut dimasukan dalam sebuah kotak yang tingginya hanya 15 cm. Awalnya kutu itu melompat tinggi sampai menabrak bagian atas kotak. Namun, lama kelamaan kutu tersebut melompat tidak menabrak bagian atas kotak lagi. Setelah kutu itu dikeluarkan dari kotak, dia melompat hanya sebatas tinggi kotak itu”

Kutu itu membatasi dirinya ketika sudah dikeluarkan dari kotak. Dia hanya melompat setinggi kotak. Padahal dia bisa melompat lebih tinggi lagi. Berapa banyak dari kita yang membatasi diri kita sehingga kita hanya “melompat” setinggi pemikiran kita atau setinggi pemikiran orang tentang kita? Sis, Bro… Kemampuan kita itu kadangkala lebih “tinggi” dari apa yang kita pikirkan. Darimana kita tau kalau kita gak mampu kalau kita gak pernah mencobanya?

*Perasaan tulisan ini malah kayak gaya tulisan salah seorang penulis yang biasanya artikelnya biasanya di muat hari minggu di koran kompas* Maaf bila tidak ada korelasinya, maklum hanya sekedar tulisan ngawur sembari menikmati indahnya hotspotan di tempat ini…

Posted by: cikrin | April 3, 2011

Ice cream sundae

Baru saja saya membuka Google dan melihat ada gambar Ice Cream terangkai dalam tulisan Google. Emang hari ini hari apa ya? Jelas sekarang adalah hari minggu, tapi ada event apa ya? Kemudian saya letakkan cusor saya ke arah tulisan google. Terdapat keterangan “119th Anniversary of the First Documented Ice Cream Sundae“. Read More…

Posted by: cikrin | April 2, 2011

nge-pizza hut

Beberapa hari yang lalu saya, Kintar, dan Rara hang out bareng ke Pizza Hut. Awalnya sih Rara yang mengajak saya untuk hura-hura tapi entah kenapa tiba-tiba Kintar mau ikutan setelah dia tau kalau kita mau nge-PH (bukan Pasangan Hidup lho tapi Pizza Hut). Memang Rara ini agak-agak labil :p, awalnya mau nge-PH di Sudirman tapi berubah jadi di Jakal. Mungkin karena di Jakal lebih dekat dengan kediaman Sdri Rara. Rencananya mau nge-PH bareng Moet2 juga tapi ternyata dia gak bisa. Kami janjian jam 7 malam di PH Jakal. Saya juga belum pernah makan di PH Jakal. Hujan rintik-rintik ketika saya berangkat menju PH. Ternyata Rara dan Kintar sudah sampai duluan. Mereka memilih tempat smoking area. Apakah salah satu dari mereka juga smoking? Tapi tidak mungkin, mereka anak baik-baik. *Ceritanya membela :p*.

Kami memesan Sensasi Deligt ber-4. Kemarin sih Kintar bilang kalau dia mau hemat tapi malah hedon :p. Makanan satu persatu dihidangkan dan pramusaji pun silih berganti berdatangan menanyakan, “Apakah sudah lengkap? Kalau perlu bantuan bisa menghubungi kami”. Wis nganti ping pira ya le teka? Nganti jeleh le njawab.

Menu yang kami pesan

Kintar memesan spageti. Pizzanya cukup bahkan sangat mengeyangkan, ya iyalah jatah makan 4 orang dihabisin 3 orang. Perlahan tapi pasti kami menghabiskan satu per satu makanan dengan senang hati *botek kayaknya*. Setelah selesai makan, kami ngobrol-ngobrol sembari bertukar pikiran *apa coba pikiran yang kami saling tukar?*. Sekitar jam 8.30 kami putuskan untuk pulang dan beristirahat mengingat kami esok harinya kami beraktivitas. Nge-PH yang menyenangkan bersama teman-teman. Suasana yang dingin sembari melihat rintikan air hujan turun membasahi bumi. Happy nge-PH…

next project: nge-TipTop

Posted by: cikrin | March 22, 2011

mbuah

What’s “MBUAH“? Mbuah is acara makan es buah di Kang Cepot ala anak-anak Kopijos. Di tempat inilah saya di prospek oleh saudara Kintar tentang Koprol (padahal sebelumnya udah tau tentang Koprol dari majalah Marketing), demi nyenengin yang mrospek, saya dengarkan saja penjelasan dari Kintar. Hehe…

Es Buah Kang Cepot

Awalnya saya tau ditempat ini diberi tau oleh teman saya. Dia promosi dengan dahsyatnya. Saya jadi penasaran dan mencari lokasi es tersebut. Setelah saya coba memang esnya enak. Dulu pernah kopdar mini di sini, bertepatan dengan ulang tahun dari Dekalaw dan ternyata kami di traktir (padahal kami gak minta lho, tau gitu kita gak cuma mbuah :p).

Di es buah Kang Cepot terdapat menu Es Buah (terdapat rasa: leci, orange, sirsak, stoberi, melon,dll), Es BubbleEs Kelapa Muda. Harganya sekitar Rp 6.000,-. Lokasinya di daerah Mrican, dekat dengan Univ.Atma Jaya Yogyakarta dan Sanata Dharma. Kalau di bawa pulang bisa jadi 2 porsi (Soalnya sampai rumah, esnya udah mencair :p). Kalau penasaran silakan mencoba. Petanya bisa cek di stream saya :p (upload peta menyusul).

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers